PERAN PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN SEBAGAI PENGENDALI FUNGSI DALAM PEMBANGUNAN LANJUTAN LABORATORIUM B2P2TOOT TAWANGMANGU
Abstract
Pembangunan gudang logistik Polres Lamongan, sebagai salah satu elemen infrastruktur publik, perlu dilakukan pengawasan dengan tingkat efisiensi yang tinggi untuk mendukung kebutuhan operasional kepolisian. Beberapa masalah operasional telah muncul yang menghambat penyelesaian tepat waktu. Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah keterlambatan dalam pengiriman material yang sangat mempengaruhi kelancaran pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan dalam proyek pembangunan Gudang Logistik Polres Lamongan, dengan fokus pada peran kontraktor, supplier, konsultan, dan pemilik proyek. Melalui pendekatan kuantitatif, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang dapat menyebabkan keterlambatan proyek konstruksi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis regresi linier berganda untuk menentukan hubungan antara variabel independen (lingkungan kerja, keterlambatan material, peralatan, tenaga kerja, dan perubahan desain) dengan keterlambatan pelaksanaan pekerjaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor tenaga kerja memiliki pengaruh terbesar terhadap keterlambatan proyek, dengan nilai beta 0,455, diikuti oleh perubahan desain yang memiliki pengaruh positif meskipun kecil. Sementara itu, faktor lingkungan kerja, keterlambatan material, dan peralatan tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Untuk mengatasi keterlambatan, penelitian ini merekomendasikan perbaikan dalam koordinasi antar pihak terkait, manajemen sumber daya yang lebih baik, dan perencanaan yang lebih matang. Penelitian ini memberikan wawasan yang penting untuk meningkatkan pengelolaan proyek konstruksi dan mencegah keterlambatan yang tidak terduga pada proyek-proyek serupa di masa depan.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Allen, C. K. (1988) Occupational therapy: Functional assess- ment of the severity of mental disorders. Hospital and Community Psychiatry, 39, 140–142.
Awad, A. G. (2016) Beyond Assessment of Quality of Life in Schizophrenia. Edited by A. G. Awad and L. N. P. Voruganti. Switzerland: Springer International Publishing.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (2018) Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta.
Barkhof, E. et al. (2012) ‘Interventions to improve adherence to antipsychotic medication in patients with schizophrenia – A review of the past decade’. European Psychiatry. Elsevier Masson SAS, 27(1), 9–18.
Duncan, E. A. S. (2006) Theoretical foundations for occupa- tional therapy: Internal influences. In: E. A. S. Duncan (Ed.), Foundations for practice in occupational therapy (4th edn), 25–42). Edinburgh: Elsevier Churchill Livingstone.
Foruzandeh, N. dan Parvin, N. (2012) ‘Occupational therapy for inpatients with chronic schizophrenia : A pilot randomized controlled trial’, Japan Journal of Nursing Science, 10, 1–5.
Fulford, D., Campellone, T. dan Gard, D. E. (2018) Social motivation in schizophrenia : How research on basic reward processes informs and limits our understanding. Clinical Psychology Review. Elsevier, 63(May), pp. 12–24.
Human Rights Watch (2016) Hidup di Neraka: Kekerasan terhadap Penyandang Disabilitas Psikososial di Indonesia. Amerika Serikat.
Langdon, R., Connors, M. H. dan Connaughton, E. (2014) Cognition Social cognition and social judgment in schizophrenia. Schizophrenia Research: Cognition. The Authors, 1(4), pp. 171–174.
Levine, J. dan Levine, I. S. (2009) Schizophrenia for Dummies. Indiana: Wiley Publishing.
Lotterman, A. (2015) Psychotherapy for People Diagnosed with Schizophrenia. Revised. New York: Routledge.
Rafik, A., Febrianti, Y. dan Lusiyana, N. (2019) ‘Peningkatan Literasi Masyarakat terhadap Orang Dengan Skizofrenia (ODS) di Desa Sindumartani Yogyakarta’, Jamali-Jurnal Abdimas Madani dan Lestari, 01(September), 53–61.
Reddy, L. F. et al. (2019) Social exclusion in schizophrenia: Psychological and cognitive consequences. Journal of Psychiatric Research. Elsevier, 114(August 2018), 120–125.
Rini, W. S. dan Hadjam, M. N. R. (2016) Efektivitas Remediasi Kognitif terhadap Perbaikan Fungsi Kognitif pada Penderita Skizofrenia Rawat Inap di Rumah Sakit Jiwa A di Yogyakarta, Gadjah Mada Journal of Professional Psychology, 2(2), 116–129.
Shimada, T. et al. (2016) Development of an Individualized Occupational Therapy Programme and its Effects on the Neurocognition , Symptoms and Social Functioning of Patients with Schizophrenia. Occupational Therapy International, 23, 425–435.
Tan, B., Lee, S. dan Lee, J. (2018) Social cognitive interventions for people with schizophrenia : A systematic review. Asian Journal of Psychiatry. Elsevier B.V., 35, 115–131.
Tanaka, C. et al. (2014) Improvement of functional independence of patients with acute schizophrenia through early occupational therapy : a pilot quasi- experimental controlled study. Clinical Rehabilitation, 28(8), 7–10.
Wilcock, A. A. (2005) Occupational science: Bridging occupation and health. Canadian Journal of Occupational Therapy, 72, pp. 5–12.
Zahnia, S. dan Sumekar, D. W. (2016) Kajian Epidemiologis Skizofrenia. Majority, 5(5), 161–166.
DOI: https://doi.org/10.26877/e-dimas.v11i3.5589
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
JP3 (Jurnal Pendidikan dan Profesi Pendidik) telah terindeks pada:
JP3 (Jurnal Pendidikan dan Profesi Pendidik) by LPP Universitas PGRI Semarang is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Based on a work at https://journal.upgris.ac.id/index.php/jp3.


.png)









